Montessori vs traditonal method of learning

Montessori vs. Prasekolah Tradisional: Mana yang Lebih Baik?

Memilih program pendidikan prasekolah untuk anak-anak bisa membuat Anda kewalahan. Terutama bagi orang tua yang baru pertama kali mengalaminya. Apa filosofi pembelajaran terbaik di luar sana? Apakah cocok untuk anak saya? Apakah anak saya akan belajar lebih baik di sana dibandingkan dengan yang lain? Bagi banyak orang tua, pertanyaan pertama saat memilih program penitipan anak atau prasekolah untuk anak-anak mereka adalah apakah mereka harus menggunakan Montessori atau metode tradisional?

Dalam panduan ini, Anda akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan sehingga Anda dapat memutuskan metode pengajaran prasekolah yang terbaik untuk anak Anda.

Montessori vs. Tradisional: Filosofi Pengajaran

Berikut adalah rincian lengkap mengenai metode pembelajaran Montessori vs tradisional.

 

Metode Montessori

Kesalahpahaman yang paling umum tentang pendidikan Montessori adalah bahwa anak-anak diizinkan untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan, tanpa batasan atau struktur untuk belajar. Hal ini sangatlah keliru.

Dalam metode Montessori, anak-anak belajar sesuai kecepatan mereka, serta dibimbing oleh minat mereka sendiri. Dalam pengaturan seperti ini, guru mengikuti arahan anak. Sementara itu, anak bebas menentukan pilihannya sendiri, bagaimana mereka akan menghabiskan waktunya, tanpa batasan yang ditentukan oleh guru.

Di kelas Montessori, mereka menganggap bahwa bermain adalah bagian penting dari pembelajaran. Hal ini juga dikenal sebagai child’s work, program yang ditujukan pada anak yang menekankan pembelajaran mandiri dan individual yang aktif. Guru mengamati, membimbing, dan melacak kemajuan anak. Mereka juga memfasilitasi penggunaan berbagai material pembelajaran.

Peran seorang guru dibagi ke dalam kategori berikut:

  • Menyiapkan ruang kelas untuk menarik rasa ingin tahu anak-anak.
  • Menentukan pelajaran mana yang sesuai dengan minat anak, mengajarkan konsep baru, atau memperkuat pembelajaran anak.
  • Mengajak anak-anak untuk belajar (menunjukkan kepada anak-anak bagaimana menggunakan material pembelajaran)
  • Anak-anak bebas memilih material belajarnya sendiri

Pendekatan ini memungkinkan anak-anak untuk mandiri, percaya diri, memiliki disiplin diri, dan dapat mengatur diri sendiri.

 

 

Metode Tradisional Berbasis Permainan

Pada kelas tradisional berbasis permainan, keyakinannya adalah bahwa anak-anak akan belajar dengan sangat baik melalui bermain. Namun, permainannya lebih diarahkan oleh guru, dan waktu bermain biasanya terbuka dan tanpa struktur tetap. Guru adalah figur sentral di kelas. Ini berarti guru memimpin anak-anak untuk mengambil bagian dalam kegiatan berbasis bermain. Seperti bermain pura-pura dan kegiatan kelompok lainnya. Kemudian guru menindaklanjutinya dengan pembelajaran akademik.

Namun, karena pembelajarannya berbasis bermain, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain dengan mainan. Sementara mereka memiliki waktu untuk memilih mainan apa pun yang ingin dimainkan, pembelajaran telah dijadwalkan dan ditentukan sebelumnya. Anak-anak biasanya akan berkeliling ke area yang berbeda dan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok yang berbeda, seperti seni, bercerita, dll.

Guru bertanggung jawab untuk membuat semua anak terlibat dalam kegiatan yang berbeda. Hal ini untuk memastikan anak-anak memenuhi pedoman yang diharapkan berdasarkan kurikulum. Dengan cara ini, anak-anak dapat mengembangkan keterampilan kerja sama, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial, dan keterampilan resolusi konflik.

 

Metode pembelajaran mana yang harus Anda pilih: Montessori vs Tradisional?

Kedua metode mempersiapkan anak-anak untuk jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu taman kanak-kanak. Yang lebih penting adalah bahwa kedua metode ini membantu mengembangkan kecintaan anak-anak untuk belajar. Sementara kedua filosofi memiliki pro dan kontra sendiri, dalam banyak kasus, Anda tidak dapat memutuskan hanya berdasarkan filosofi saja.

Kebanyakan orang tua mendasarkan keputusan mereka pada kepraktisan, seperti jarak sekolah dari rumah mereka, ketersediaan (tidak semua komunitas memiliki sekolah Montessori), jadwal, dan biaya. Namun, keputusan Anda tidak bisa berakhir begitu saja. Anda juga harus memeriksa kondisi fisik sekolah, reputasinya, kredensial staf (terutama guru), dan tentu saja, akreditasi.

Mengetahui perbedaan utama antara program tradisional dan Montessori adalah langkah pertama yang penting. Setelah Anda merasa memiliki pilihan yang tepat, tanyakan dan periksalah sekolah yang berbeda di daerah Anda. Anda dapat meminta rekomendasi dari teman, membaca review online, dan mengecek profil media sosial mereka. Lebih penting lagi adalah dengan mengunjungi sekolah, yang idealnya dapat dilakukan pada jam sekolah. Ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan kesan yang lebih baik tentang sekolah.

Jika Anda mempertimbangkan sekolah tradisional, pilihlah sekolah berbasis permainan yang lebih menekankan pada perkembangan sosial dan emosional anak-anak daripada akademis. Jika Anda mempertimbangkan Montessori, ingatlah bahwa pada akhirnya anak Anda kemungkinan besar masih akan pindah ke sekolah tradisional. Jadi, pastikan metode Montessori juga mempersiapkan anak Anda untuk lingkungan sekolah tradisional.

Saat berkeliling sekolah, pastikan Anda bertanya tentang kualifikasi staf, terutama guru dan pimpinan sekolah.

Hal penting lainnya adalah dengan mempertimbangkan preferensi dan kebutuhan anak Anda. Tidak ada yang mengenal anak Anda lebih baik dari Anda sendiri. Apakah lingkungan yang bising membuat anak Anda kewalahan? Bagaimana dengan energi tinggi anak Anda, apakah cocok dengan lingkungannya? Bagaimana program dan filosofi mereka, apakah sesuai dengan kepribadian anak Anda? Tanyakan kepada guru atau staf mereka tentang fasilitas apa pun yang menurut Anda berkaitan dengan pembelajaran anak. Tidak ada pertanyaan yang salah tentang itu.