Children in a Montessori classroom are bringing the material that they have chosen from a shelf.

Merdeka Belajar! Merdeka Mengajar! Pendekatan Montessori yang Menginsipirasi

Perubahan ke arah yang lebih baik telah muncul dalam dunia pendidikan. Terlebih khusus dalam dunia pendidikan di Indonesia, Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar telah mulai diimplementasikan. Dalam dunia pendidikan Indonesia, Merdeka Belajar telah digerakkan melalui Kurikulum Merdeka Belajar selama empat tahun belakangan ini. Mendikbudristek Nadiem Makarim ingin mentransformasi sistem pendidikan di Indonesia sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Kita. 

Menariknya, ide Ki Hajar Dewantara terinspirasi dari metode Montessori. Bagaimana bisa? Rupanya, Ki Hajar Dewantara banyak belajar dari Dr. Maria Montessori waktu keduanya bertemu di Belanda. Begitu banyak filosofi, pandangan, dan konsep Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang lahir dari filosofi dan prinsip dalam metode Montessori. Luar biasa, bukan?

Konsep Medeka Belajar ini menekankan pentingnya memberdayakan anak-anak untuk mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri dan menyenangkan, sementara guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator. Lalu bagaimana cara membuat konsep ini berhasil? Jawabannya ada pada pendekatan Montessori yang telah terbukti dan sangat menginspirasi.

Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar lebih dari sekadar tren. Konsep pendidikan ini mengakui bahwa anak-anak dapat berperan aktif dalam pembelajaran mereka. Konsep ini menciptakan lingkungan di mana anak-anak memiliki kebebasan untuk dapat mengikuti minat mereka dan belajar secara efektif dengan kecepatan mereka sendiri. Pendekatan Montessori adalah cara yang tepat untuk menerapkannya. Metode Montessori sudah ada selama berabad-abad, dan masih relevan hingga saat ini. Mari kita selami lebih dalam tentang bagaimana metode Montessori dapat mengakomodasi kebebasan belajar dan mengajar!

Pendekatan Montessori dan Relevansinya

Menciptakan Lingkungan yang dipersiapan (Prepared Environment)

Metode Montessori menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang dipersiapkan sehingga dapat merangsang rasa ingin tahu anak. Setiap kelas atau ruang belajar perlu dirancang dengan cermat untuk dapat memenuhi kebutuhan anak-anak dalam mengembangkan keterampilan dan minat mereka. Material pembelajaran harus menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

Di dalam kelas Montessori, Anda akan menemukan berbagai material pembelajaran taktil yang tersusun rapi di rak-rak yang rendah. Material-material ini dipilih dengan hati-hati untuk merangsang rasa ingin tahu anak dan mendorong eksplorasi mandiri.

Kegiatan Mandiri yang Bermakna

Pendidikan Montessori percaya bahwa anak-anak memiliki guru batin di dalam diri mereka (inner teacher) yang membimbing dalam pembelajaran dan tumbuh kembang mereka. Filosofi ini berfokus pada penyediaan kegiatan bermakna yang sesuai dengan tahapan perkembangan masing-masing anak. Anak-anak didorong untuk belajar secara mandiri, mengambil inisiatif, dan bekerja sama dengan teman sebaya.

Anda dapat melihat ke dalam kelas Montessori di mana anak-anak terlibat dalam kegiatan keterampilan sehari-hari seperti menuang air, menyapu, atau memotong buah. Kegiatan-kegiatan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan motorik halus, konsentrasi, dan rasa tanggung jawab. Anak-anak memilih dan melakukan berbagai kegiatan secara mandiri, sehingga dapat membentuk rasa pencapaian dan kemandirian yang berakar pada dorongan guru batin mereka.

Memahami Pola Tumbuh Kembang Anak

Dalam metode Montessori, Merdeka Mengajar dapat dilakukan dengan cara mengakomodasi kebutuhan individu masing-masing anak. Guru dengan cermat mengamati anak untuk dapat memahami minat, kelebihan, dan tantangan masing-masing. Kemudian, guru akan merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan pola tumbuh kembang yang unik pada setiap anak. Dengan pemahaman yang mendalam ini, para guru dapat mengatasi berbagai hambatan pembelajaran dengan sangat mudah.

Sebagai contoh, seorang guru yang melihat anak mengalami kesulitan dengan konsep matematika akan memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk mengeksplorasi dan bereksperimen sebelum menawarkan bantuan. Melalui observasi yang teliti, guru dapat mengidentifikasi tantangan-tantangan khusus yang dihadapi anak dan merancang kegiatan interaktif yang secara langsung dapat mengatasi hambatan tersebut.

Memanfaatkan Periode Sensitif Anak

Setiap anak melewati waktu-waktu ajaib di mana pikiran mereka seperti spons dan menyerap pengetahuan lebih cepat dari sebelumnya. Hal ini disebut dengan periode sensitif (Sensitive Period). Selama periode ini berlangsung, anak-anak sangat tertarik untuk mempelajari keterampilan atau konsep tertentu. Para guru percaya bahwa penting untuk memanfaatkan masa-masa ini dengan memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk bereksplorasi dan belajar dengan kecepatan mereka sendiri.

Misalnya, seorang anak yang sedang dalam periode sensitif terhadap keteraturan terlihat konsisten merapikan barang-barang dan memastikan bahwa semuanya berada di tempatnya. Guru dapat mengakomodasi hal ini dengan memberikan anak berbagai kesempatan untuk melatih tata tertib, seperti menyusun meja untuk makan, membersihkan diri secara mandiri setelahnya, dan mengatur barang-barang mereka sendiri. Selain itu, selama periode-periode ini minat anak terhadap pembelajaran berada pada tingkat tertinggi. Para guru dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan konsep-konsep yang lebih kompleks sesuai dengan minat mereka.

Guru sebagai Pengamat dan Fasilitator

Prinsip ini menempatkan perhatian pada guru sebagai pengamat dan fasilitator, bukan sebagai pemberi instruksi secara langsung. Sebelum mengembangkan rencana pembelajaran, para guru mengamati minat dan kebutuhan perkembangan masing-masing anak. Mereka memfasilitasi pembelajaran dengan menyediakan material dan panduan yang tepat pada waktu yang tepat. Hal ini adalah rumus kunci untuk Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar.

Misalnya, jika seorang anak sedang menunjukkan minat pada serangga, guru dapat mengambil langkah lebih lanjut. Guru dapat menciptakan cara khusus untuk mempelajari serangga pada semua area pembelajaran, mulai dari matematika hingga seni. Misalnya adalah dengan mempelajari konsep bilangan matematika dengan tema serangga, belajar kosakata dan membentuk kata dengan nama-nama serangga, mengenal siklus hidup serangga, dan bahkan berkreasi membuat bentuk serangga. Metode ini memungkinkan anak-anak untuk memilih, menemukan, dan belajar tentang hal-hal yang paling mereka minati.

Seorang guru mengamati anak-anak di kelas Montessori saat mereka belajar dengan material Metal Inset

Mengintegrasikan Prinsip Montessori ke dalam Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar

Prinsip Montessori mendukung kebebasan belajar dengan menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak-anak mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri. Guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi lebih sebagai fasilitator yang membimbing anak-anak dalam proses pembelajaran mereka.

Pendekatan Montessori mendorong guru untuk memahami perkembangan dan periode sensitif setiap anak. Hal ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan rencana pembelajaran dengan kebutuhan individu setiap anak. Dengan memahami bahwa setiap anak memiliki guru batin, guru dapat memberikan bimbingan dan dukungan yang dibutuhkan anak untuk mencapai potensi optimal mereka. Setiap anak memiliki cara belajar yang unik, dan peran guru sebagai pendidik adalah untuk berselaras dengan perkembangan guru batin anak. Dengan prinsip Montessori, anak-anak diajarkan untuk menghargai diri mereka sendiri sebagai pembelajar dan turut berkontribusi terhadap pendidikan mereka.

FAQ

P1: Apa itu Metode belajar Montessori?

J1: Metode belajar Montessori adalah pendekatan pendidikan yang mengutamakan pengembangan diri anak secara alami dan mandiri melalui penggunaan material Montessori  dan lingkungan yang dipersiapkan.

P2: Apa saja area pembelajaran montessori?

J2: Ada 5 area pembelajaran utama dalam metode Montessori yaitu keterampilan hidup sehari-hari, sensorial, bahasa, matematika, dan budaya.

P3: Bagaimana pendekatan Montessori dapat mendukung konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar?

J3: Pendekatan Montessori dapat mendukung konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar dengan mendorong kemandirian, eksplorasi, dan kebebasan dalam pembelajaran.

Kesimpulan

Pendekatan Montessori menawarkan perspektif yang komprehensif dan tak ternilai tentang konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar. Dengan memahami dan mengintegrasikan prinsip-prinsip tersebut ke dalam pendidikan, kita dapat menciptakan generasi anak-anak yang lebih mandiri, kreatif, dan percaya diri dalam menghadapi tantangan masa depan. Memahami bahwa setiap anak memiliki potensi unik dan memiliki guru batin, kita dapat membentuk lingkungan belajar yang merangsang dan suportif. Melalui pendekatan ini, kita tidak hanya menciptakan pembelajar seumur hidup, tetapi juga individu yang siap membuat perbedaan di dunia. Mari kita ciptakan Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar dengan Montessori!

Montessori Diploma 3-6 Years Online Course
Montessori Lower Elementary 6-9 Years Certificate Course
Montessori Certificate 3-6 Years Online Course
Short Certificate Courses 2-6 Years for Parents and Educators