Musim liburan membawa hal-hal baru yang tidak anak hadapi setiap hari: ada lebih banyak orang, suasana yang lebih ramai, perubahan rutinitas, dan ekspektasi yang meningkat. Justru karena itu, liburan adalah waktu yang sangat bagus untuk melatih Grace & Courtesy—bagian Montessori yang paling praktis dan relevan untuk kehidupan sehari-hari anak.
Grace & Courtesy bukanlah ‘latihan sopan santun’ yang memaksa anak untuk terlihat manis di depan semua orang, melainkan cara untuk membantu anak, dalam mempelajari keterampilan sosial yang berguna untuk menjaga etika dan sopan-santun anak:
- Cara menyapa
- Cara menawarkan bantuan
- Cara bergabung dengan kelompok
- Cara menolak dengan sopan
- Cara menyelesaikan konflik dengan cara yang baik
- Dan cara menjaga dirinya sendiri
Kuncinya: kita ajarkan keterampilan ala Montessori ini melalui contoh, latihan singkat, dan praktik konkret.
Berikut panduan lengkap Grace & Courtesy Montessori yang bisa dipraktikkan di rumah maupun di sekolah.
1) Sebelum tamu datang: ajarkan anak ‘3 hal dasar’
Kalau Anda hanya sempat mengajarkan tiga hal sebelum kumpul keluarga, ajarkan ini:
A. Cara menyapa
Lakukan dengan cara yang mudah dan sederhana.
- Lihat orangnya (kalau anak nyaman)
- Senyum (opsional)
- Bilang: “Halo, Tante.” / “Hai.”
Tips Montessori: Latihan role-play 30 detik sehari. Lakukan latihan ini dengan cara yang membuat anak merasa nyaman, jangan jadikan latihan ini sebagai ajang pertunjukan.
B. Cara menawarkan bantuan (minta anak untuk melakukan satu tugas sederhana)
Pilih satu ‘tugas tamu’ yang bisa anak lakukan:
- Mengambilkan tisu/serbet
- Menunjukkan tempat meletakkan sepatu
- Membawakan nampan kecil berisi gelas kosong (dengan pengawasan orang dewasa)
- Menyiram tanaman setelah tamu pulang
Anak akan merasa lebih tenang saat ia merasa punya peran penting.
C. Cara pamit dengan sopan
Momen bertamu terkadang tidak sebentar. Tak jarang anak membutuhkan cara yang sopan untuk keluar dari situasi yang membosankan baginya.
Ajarkan kepadanya satu kalimat:
- “Permisi, aku mau main dulu.”
- “Aku mau ke toilet.”
- “Aku butuh istirahat.”
Kegiatan permisif ini dapat mencegah rengekan, keinginan anak untuk nempel terus dengan orang tua, atau meledaknya emosi anak karena anak merasa bosan dengan situasi yang sedang ia hadapi.
2) Mengajarkan menyapa, menawarkan bantuan, dan mengucapkan terima kasih (cara Montessori)
Buat sapaan tanpa tekanan
Ada anak yang pemalu atau perlu waktu untuk bisa akrab dengan orang lain. Ini merupakan hal yang normal. Montessori memahami dan menghargai apa pun bentuk emosi anak.
Yang bisa Anda lakukan:
- Berdiri di samping anak
- Sapa anak duluan dengan sikap yang hangat
- Beri anak pilihan yang mudah:
- “Kamu mau bilang ‘halo’… atau cukup melambaikan tangan.”
- “Kamu boleh dekat Mama/Papa dulu.”
Yang sebaiknya dihindari:
- “Sapa sekarang!”
- “Jangan malu-malu, nggak sopan.”
- Memberi ancaman atau iming-iming hadiah.
Sapaan yang tulus lahir dari rasa aman, bukan paksaan.
Ubah ‘cari perhatian’ menjadi kontribusi
Saat anak bertingkah heboh di depan tamu, sering kali itu disebabkan karena ia merasa ‘tersingkir’ dan terabaikan. Beri anak peran.
Katakan:
- “Tolong ambilkan serbet ya. Kamu bantu Mama.”
- “Bisa tunjukkan ke Kakek gelasnya di mana?”
Kontribusi adalah solusi Montessori untuk mengatasi anak yang bersikap tantrum karena merasa diabaikan.
Ajarkan ‘terima kasih’ tanpa memaksa
Kita tentu ingin anak belajar bersyukur. Tapi ucapan “Ayo bilang makasih!” sering kali terdengar seperti perintah yang memaksa anak.
Coba cara ini:
- Anda contohkan dulu: “Terima kasih sudah datang.”
- Beri anak pilihan yang membuatnya nyaman:
- “Kamu mau bilang terima kasih sekarang, atau nanti pas pulang?”
- “Kamu mau bilang terima kasih sekarang, atau nanti pas pulang?”
- Jadikan ritual penutup:
- Di pintu: “Terima kasih ya, Tante. Dadah!”
- Di pintu: “Terima kasih ya, Tante. Dadah!”
3) Menjadikan anak tuan rumah yang ‘baik’: pelajaran Montessori untuk kegiatan sehari-hari (menyajikan, menawarkan, membersihkan)
Liburan itu ‘Practical Life’ versi nyata: mengajarkan anak untuk menyajikan sesuatu, merawat sesuatu, belajar untuk memiliki kepekaan sosial secara konkret.
A. Menyajikan: ajarkan rutinitas nampan sederhana
Pilih satu yang aman untuk anak sajikan:
- Serbet
- Biskuit
- Gelas kosong
- Air minum (kalau usia dan keterampilannya memungkinkan, namun tetap awasi anak)
Ajarkan:
- Bawa dengan dua tangan
- Jalan pelan-pelan
- Tawarkan satu kalimat:
- “Mau satu?”
- “Mau satu?”
- Kembalikan nampan ke tempat semula
B. Menawarkan: ajarkan cara mengajak orang lain
Anak bisa belajar menjadi host kecil dengan cara yang sederhana:
- “Mau duduk sini?”
- “Mau lihat bukuku?”
Singkat, jelas, tidak dibuat-buat.
C. Membersihkan: tutup dengan “care of the environment”
Setelah tamu pulang, beri anak tugas reset kecil:
- Lap meja
- Kumpulkan gelas
- Lipat kain
- Rapikan dekorasi ke dalam keranjang
Kegiatan ini membantu anak untuk menenangkan diri setelah berhasil ‘keluar’ dari ‘keramaian’ dan menjadikan ini sebagai proses untuk mengembalikan ‘keteraturan’ ke dalam dirinya —sangat Montessori.

4) Batasan dengan keluarga besar: Kalimat sopan yang melindungi anak (dan Anda)
Sering kali ini menjadi bagian yang cukup ‘berat’ untuk dilakukan karena ada peran budaya keluarga terlibat di dalamnya, apalagi saat liburan, kesempatan berkumpul keluarga besar menjadi lebih mungkin terjadi. Montessori menghormati orang dewasa—namun juga menghormati anak.
Ajarkan kalimat batasan sebelum acara keluarga dimulai
Saat tertekan, anak bisa freeze. Jadi bekali ia dengan kata-kata ini.
Contoh skrip:
- “Tidak dulu ya.”
- “Tidak sekarang.”
- “Aku butuh jarak.”
- “Aku mau duduk sama Mama/Papa.”
- “Aku tidak mau bahas itu.” (untuk anak lebih besar)
Cara orang tua mem-back-up tanpa drama
Kalimat pendek sudah cukup:
- “Kami sedang melatih dia untuk memilih.”
- “Dia butuh waktu, nanti juga gabung.”
- “Terima kasih ya sudah mengerti.”
Kalau masih memaksa:
- “Kami tidak akan memaksakan hal itu padanya.”
- “Tolong hormati ‘tidak’-nya.”
Singkat. Jelas. Tidak perlu debat panjang.
5) ‘Pelukan paksa’ dan body autonomy: rencana liburan yang selaras Montessori
Ini salah satu topik liburan yang paling penting.
Montessori dibangun di atas rasa ‘hormat’ pada anak, termasuk tubuhnya.
Aturannya: anak yang memilih kontak fisik
Kita bisa mengajarkan anak untuk ramah tanpa mengajarkan anak untuk harus selalu menerima sentuhan yang tidak ia mau.
Berikan alternatif yang tetap hangat:
- Melambaikan tangan
- Tos/fist bump
- Salaman (kalau anak mau)
- ‘irim kiss’ dari jauh
- ‘alo dari sini’
- Senyum dan kontak mata
Ajarkan satu kalimat sederhana:
- “Tidak dulu ya, aku tidak mau peluk.”
atau - “Tos aja ya.”
Yang bisa Anda katakan ke keluarga (sopan dan tegas)
Sebelum kumpul:
- “Kami sedang mengajarkan batas tubuh. Jadi mohon biarkan dia memilih soal pelukan.”
Saat kejadian:
- “Dia bisa dadah saja ya. Tidak perlu peluk.”
- “Nanti kalau sudah siap, dia akan mendekat.”
Yang sebaiknya tidak kita lakukan (meski terlihat sepele)
Hindari:
- “Peluk dulu biar sopan.”
- “Jangan bikin Mama malu.”
- “Kalau nggak peluk, berarti nggak sayang.”
Ini mengajarkan anak bahwa perasaan orang lain lebih penting daripada sinyal tubuhnya—dan itu bukan pesan yang kita inginkan.
Rencana latihan 5 menit sehari (Grace & Courtesy)
Hari 1: Latihan menyapa + dadah
Hari 2: Latihan “Permisi, aku mau…”
Hari 3: Latihan menyajikan dengan nampan (gelas kosong/serbet)
Hari 4: Latihan kalimat batasan (“Tidak dulu ya”)
Hari 5: Latihan pilihan sentuhan (dadah/tos/salaman)
Ulangi. Lakukan dengan cara yang mudah dan sederhana.
Pesan terakhir: anak yang tenang bukanlah karena ‘kebetulan’— melainkan karena dipersiapkan
Liburan tidak harus menjadi ajang koreksi anak di depan tamu. Dengan Grace & Courtesy Montessori, kita bisa mempersiapkan anak sikap yang sopan dan etika bertamu—dengan praktik langsung di kegiatannya sehari-hari, dengan bahasa yang jelas, dan peran penting bagi anak.
Dengan Grace & Courtesy Montessori kita juga bisa menjaga hal-hal penting, seperti martabat anak, kemandirian, dan hak atas tubuhnya sendiri.
Kalau Anda ingin, Sunshine Teachers’ Training bisa membantu Anda belajar Grace & Courtesy sebagai bagian dari Montessori yang autentik— bagaimana cara mencontohkannya, bagaimana cara ‘memberi pelajaran’ kecil, dan bagaimana cara mendukung perkembangan sosial anak tanpa reward, ancaman, atau paksaan.