Child in a Montessori classroom concentrating on a sensorial activity, using a weighing scale to learn about weights and measurement.

Kurikulum Montessori : Gambaran Komprehensif tentang Area Kurikulum Montessori

Kurikulum Montessori terkenal dengan pendekatan pendidikan holistik yang berpusat pada anak. Kurikulum ini menekankan pembelajaran berbasis pengalaman atau disebut experiential learning. Pada kurikulum Montessori untuk anak usia dini (3-6 tahun) terdapat area bahasa, matematika, kegiatan keterampilan hidup, pelatihan sensorial dan ilmu budaya. Setiap area dikembangkan dengan penuh pemikiran untuk mendorong perkembangan holistik pada anak-anak, serta memupuk rasa ingin tahu dan hasrat alami mereka terhadap pengetahuan.

Perubahan Paradigma dalam Pendidikan

Pendidikan tradisional sering kali berfokus sepenuhnya pada penyampaian pengetahuan melalui buku teks dan ceramah. Sebaliknya, proses pembelajaran pada kurikulum Montessori mengadopsi pendekatan yang berpusat pada anak dan mengutamakan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) serta perkembangan holistik. Metode Montessori tidak hanya membantu anak-anak secara akademis, tetapi juga membantu mengasah keterampilan dan pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Area Bahasa: Langkah Menuju Penguasaan Bahasa

Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini dimana kemampuan komunikasi efektif sangatlah penting, pendekatan Montessori terhadap pendidikan bahasa melampaui metode konvensional. Di dalam kelas Montessori, anak-anak secara aktif  memanipulasi huruf-huruf untuk membentuk kata sederhana, membangun pondasi bagi pemahaman bahasa mereka. Bukan semata-mata membentuk kata, ini adalah batu loncatan bagi anak untuk menjadi seorang komunikator yang percaya diri. Ketika anak-anak merangkai kata seperti “sapi” atau “kuda” menggunakan material Moveable Alphabet, mereka dengan aktif fokus mengasah keterampilan bahasa dan menumbuhkan semangat terhadapnya.

Area Matematika: Pembelajaran Konkret

Bayangkan seorang anak belajar dasar-dasar penjumlahan dengan memanipulasi manik-manik secara nyata. Ini bukan hanya aritmatika; ini adalah awal lahirnya kemampuan analitis. Material Matematika Montessori menghidupkan konsep abstrak dengan mengubahnya menjadi pengalaman konkret. Anak-anak memahami konsep perkalian melalui pembelajaran langsung dengan menggunakan manik-manik berwarna cerah yang dapat memberikan kegembiraan dalam bereksplorasi.

 

Seorang anak menggunakan Seguin Board dan Golden beads untuk belajar puluhan di dalam ruang kelas Montessori

Area Sensorial: Meningkatkan Ketajaman Indra

Kurikulum area sensorial meningkatkan keterampilan semua indra. Di dalam kelas Montessori, anak-anak mengeksplorasi berbagai tekstur sehingga dapat mempertajam indra peraba mereka. Ini bukan hanya latihan indra, melainkan perjalanan mendalam dalam penyempurnaan indra.  Di dalam Montessori, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan semua indra, dengan cara mengekspos anak-anak pada pembelajaran berbasis pengalaman yang dapat mempertajam kemampuan observasi. Kemampuan ini sangat penting untuk proses pengambilan keputusan di kemudian hari. Selain itu, dengan menggunakan penutup mata anak-anak akan mengenali tekstur dan aroma. Hal ini menunjukkan bagaimana kurikulum Montessori di area ini dapat mengembangkan seluruh kemampuan indra mereka.

Area Kegiatan Keterampilan Hidup: Membangun Kemandirian

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Maria Montessori, Pendidikan adalah proses alami yang dilakukan oleh individu manusia, dan diperoleh bukan dengan mendengarkan kata-kata, melainkan dengan pengalaman di lingkungan”, keterampilan hidup kadang terabaikan dalam pendidikan. Namun, Montessori mengangkatnya ke permukaan. Bayangkan seorang anak menuangkan air dari teko ke dalam gelas dengan penuh perhatian, mengembangkan fokus, ketepatan, dan keterampilan motoriknya. Ini lebih dari sekadar gerakan; ini adalah pelajaran tentang kemandirian dan melakukan hal yang bermakna. Kegiatan dalam area ini,  mulai dari berpakaian sendiri hingga menyiapkan makanan ringan, dapat membangun kemandirian sekaligus menanamkan rasa pencapaian dan tanggung jawab. Anak-anak dengan percaya diri melakukan kegiatan sehari-hari seperti menuangkan air dan mengatur barang-barang. Hal ini mendorong rasa pencapaian dan membangun kemandirian.

Gambar anak sedang melipat selimut. Anak tersebut menggunakan selimut berwarna putih. Anak tersebut sedang melipat selimut dengan rapi dan hati-hati

Area Ilmu Budaya: Membentuk Warga Negara Global

Di dunia yang ditandai oleh keterhubungan, kesadaran akan budaya menjadi hal yang sangat penting. Montessori mengatasi hal ini melalui studi yang mendalam tentang geografi, sejarah,sains, dan seni. Anda dapat melihat ke dalam kelas Montessori di mana seorang anak belajar tentang berbagai macam benua dengan menggunakan material Continent Folder. Lalu secara spesifik anak juga dapat belajar tentang negara-negara di dunia dengan material Country Box.  Pendekatan terpadu ini menumbuhkan rasa empati, memupuk kesadaran akan kewarganegaraan global (Global Citizen), dan memupuk rasa ingin tahu yang otentik terhadap budaya-budaya yang beragam. Guru dapat membuat variasi pembelajaran yang menyenangkan berkaitan dengan hal ini sehingga anak-anak dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan budaya. Contohnya, anak-anak dapat terlibat dalam kegiatan wisata kuliner. Dengan menyiapkan hidangan dari berbagai budaya dapat menggambarkan komitmen kurikulum ini dalam memupuk kesadaran terhadap budaya-budaya yang berbeda

Kesimpulan

Kurikulum Montessori lebih dari sekadar metode pembelajaran, ini adalah cara untuk memberdayakan anak-anak. Montessori adalah metode terbaik untuk mengupayakan cara mengajar dengan pendekatan yang melampaui metode hafalan, yaitu dengan membekali anak-anak dengan keterampilan yang akan membimbing mereka menuju keberhasilan dalam menghadapi masalah-masalah kompleks dalam kehidupan. Montessori mendorong rasa ingin tahu, meningkatkan kompetensi, dan membangun rasa percaya diri melalui lima area utama. Pendidikan Montessori mengembangkan individu yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga siap untuk sukses dalam dunia yang membutuhkan kemampuan beradaptasi, inovasi, dan terutama pemikiran kritis yang tajam.

FAQs

Q1: Apa perbedaan kurikulum montessori dan kurikulum tradisional? 

A1: Kurikulum Montessori melampaui kurikulum tradisional, menekankan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), perkembangan holistik, dan kemampuan beradaptasi. Sedangkan pendekatan tradisional sering kali berfokus pada metode hafalan.

Q2: Apa prinsip kurikulum Montessori?

A2: Keutamaan dari Metode Montessori adalah menghargai anak-anak, memanfaatkan pikiran penyerap, memanfaatkan periode sensitif anak untuk belajar, mengoptimalkan lingkungan yang dipersiapkan dengan baik, dan mendorong pembelajaran mandiri, menjadikan metode ini sebagai metode terbaik untuk pendidikan yang menghargai, memberdayakan, dan membentuk pemikir yang mandiri.

Q3: Apa kekurangan kurikulum Montessori? 

A3: Metode Montessori mungkin mendapatkan kritik karena tidak memiliki struktur standar dan tidak mempersiapkan siswa untuk metode ujian tradisional. Namun, adakalanya yang tampak ini harus ditimbang dengan kemampuannya yang tak tertandingi dalam menciptakan pemikiran yang adaptif dan kreatif.

satu Respon

Comments are closed.

Montessori Diploma 3-6 Years Online Course
Montessori Lower Elementary 6-9 Years Certificate Course
Montessori Certificate 3-6 Years Online Course
Short Certificate Courses 2-6 Years for Parents and Educators