Anak-anak terlahir dengan kreativitas, dan kreativitas itu bukanlah sesuatu yang kita ‘tambahkan’ di kemudian hari. Seperti yang dijelaskan oleh Lillard, imajinasi adalah kekuatan bawaan yang tumbuh seiring anak membangun pikiran mereka melalui interaksi nyata dengan lingkungan (Lillard, 1972).
Maria Montessori setuju dengan hal ini—namun ia memperingatkan kita untuk tidak mencampuradukkan fantasi dengan imajinasi. Dalam metode Montessori, imajinasi berada pada titik terkuatnya ketika dibangun di atas pengalaman nyata. Anak pertama-tama mengumpulkan ‘bahan bangunan’ dari dunia melalui indra mereka. Kemudian, pikiran menggunakan bahan-bahan tersebut untuk mencipta, merancang, menemukan, dan memecahkan masalah (Montessori, 2016).
Fantasi vs. Imajinasi (Keduanya Tidak Sama)
Anak-anak secara alami menyukai fantasi: naga, pahlawan super, dan momen “aku adalah kucing!”. Montessori tidak mengatakan bahwa ini salah. Beliau hanya mengamati bahwa fantasi bisa menjadi masalah ketika ia menggantikan kontak nyata dengan kehidupan.
Mengapa? Karena kreativitas sejati membutuhkan realitas.
Ketika anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dunia khayalan, energi mereka bisa menjadi tidak terarah. Namun, ketika imajinasi dimulai dari realitas, anak mulai berpikir, merencanakan, dan mewujudkan sesuatu di dunia nyata. Montessori menggambarkan hal ini sebagai kemampuan anak untuk memiliki kekuatan dalam menciptakan dan mengubah lingkungan mereka (Montessori, 2016).
Jadi, tujuannya bukan untuk ‘melarang’ fantasi. Tujuannya adalah untuk sering memanggil anak kembali ke realitas, sehingga imajinasi mereka menjadi kuat dan bertujuan.
Ide Utama Montessori: Imajinasi Memiliki Dasar Sensorik
Montessori menyatakan dengan jelas: “Imajinasi hanya dapat memiliki dasar sensorik.” (Montessori, 2016, hal. 184).
Dalam bahasa yang lebih sederhana:
- Indra menyerap informasi (bentuk, berat, tekstur, suara, warna).
- Pikiran mengatur kesan-kesan tersebut.
- Kemudian, pikiran menggabungkannya dengan cara-cara baru.
Itulah imajinasi.
Jadi, jika kita ingin anak memiliki imajinasi yang kaya, kita tidak seharusnya memulai dengan lebih banyak layar (gadget), kebisingan, atau kepura-puraan. Kita harus memulainya dengan pengalaman nyata yang lebih baik dan indra yang terasah.
Apa yang Dilakukan Lingkungan Montessori (Secara Bertujuan)?
Dalam ruang kelas Montessori yang autentik, imajinasi tidak ‘diajarkan’ sebagai hiburan. Imajinasi didukung melalui lingkungan yang disiapkan (prepared environment) yang memberi anak pekerjaan nyata, alat yang nyata (ukuran sesuai dengan anak), keteraturan yang jelas, dan konsentrasi yang mendalam.
Berikut adalah tiga pendukung utamanya:
1) Lingkungan sensorik yang kaya
Aktivitas sensorik membantu anak memperhatikan perbedaan kecil dan pola. Mereka belajar melihat, menyentuh, dan mendengar dengan lebih akurat. Seiring waktu, anak membentuk gambaran mental yang lebih jelas.
Mengapa ini penting: Gambaran batin yang lebih jelas memberi anak ‘bahan baku’ yang lebih baik untuk kreativitasnya.

2) Pekerjaan nyata yang membawa perubahan
Aktivitas Keterampilan Hidup (Practical Life) penuh dengan transformasi nyata:
- Mencuci meja: kotor → bersih
- Memoles: kusam → mengilap
- Menyiapkan makanan: bahan baku → camilan
- Merawat tanaman: kering → segar
Ini bukanlah ‘sekadar kesibukan’. Ini mengajarkan bahwa, ‘Tindakanku memiliki arti’.
Mengapa ini penting: Kreativitas sejati bukan hanya tentang ide, tetapi juga tentang keyakinan bahwa “Saya bisa melakukan sesuatu yang nyata.”
3) Bahasa yang menamai dunia nyata
Montessori memberi anak kata-kata yang tepat untuk apa yang mereka alami: bagian-bagian tanaman, bentang alam, hewan, objek budaya, dan alat kehidupan sehari-hari.
Mengapa ini penting: Bahasa membantu proses berpikir. Ketika anak dapat menamai apa yang mereka lihat, mereka dapat berpikir lebih jernih—dan membuatnya mampu berimajinasi lebih baik.
“Tapi anak saya sangat suka fantasi… Apa yang harus saya lakukan?”
Ini merupakan hal yang baik—banyak anak memang menyukai fantasi. Anda bisa tetap menghargainya sambil terus memberikan dukungan berbasis realitas yang kuat. Cobalah langkah-langkah ramah Montessori berikut:
1) Beri ‘Makan’ Realitas Terlebih Dahulu, Baru Izinkan Fantasi
Sebelum bermain pura-pura yang lama, tawarkan pengalaman nyata:
- memasak bersama (memotong pisang, mengaduk, menuang)
- jalan-jalan di alam (mengumpulkan daun, batu, polong biji)
- berkebun (menyiram, mengelap daun, menanam)
- merawat hewan peliharaan (dengan langkah-langkah yang aman dan diawasi)
Kehidupan nyata mengisi pikiran anak dengan kesan-kesan yang benar. Fantasi menjadi lebih sehat ketika ia tumbuh dari dasar ini.
2) Tawarkan material nyata yang bersifat terbuka (open-ended)
Pilihlah bahan-bahan yang mengundang kreativitas, namun tetap berpijak pada kenyataan:
- balok, tanah liat, menggunting kertas, krayon, cat
- benda-benda lepas dari alam (loose parts) seperti kerang, pinus, batu halus
- kerajinan tangan sederhana (meronce, menjahit kartu, menenun)
Aktivitas-aktivitas ini tetap terasa kreatif, namun tangan anak tetap terhubung dengan realitas.
3) Gunakan bahasa ‘pembumian’ (grounding) yang lembut
Jika seorang anak berkata, “Aku naga!” Anda bisa merespons tanpa membantah:
- “Kamu sedang berpura-pura menjadi naga.”
- “Coba tunjukkan bagaimana naga itu berjalan.”
- “Setelah itu, ayo kita cuci tangan untuk makan camilan.”
Hal ini menjaga anak tetap berorientasi pada apa yang nyata, sambil tetap mengizinkan mereka bermain atau berfantasi.
4) Lindungi konsentrasi yang dalam
Dalam Montessori, imajinasi yang mendalam sering kali muncul setelah konsentrasi yang dalam. Seorang anak yang telah bekerja dengan fokus akan menjadi lebih tenang secara batiniah. Kemudian, ekspresi kreatif mereka menjadi lebih terorganisir.
Maka lindungilah:
- waktu kerja tanpa gangguan
- lebih sedikit interupsi dari orang dewasa
- lebih sedikit instruksi dan ‘kuis’ (pertanyaan yang menguji)
- lingkungan yang rapi, sederhana, dan mudah diakses
Terkadang ‘pendorong kreativitas’ terbaik hanyalah lebih sedikit kebisingan dan lebih banyak waktu yang diberikan kepada mereka.

Kesimpulan Utama
Montessori tidak mengurangi imajinasi. Montessori justru memperkuatnya.
Fantasi itu mudah. Imajinasi yang bertujuan itu sangat kuat. Imajinasi yang kokoh dibangun dari:
- pengalaman nyata,
- indra yang terasah,
- pekerjaan yang bermakna,
- bahasa yang jelas,
- dan waktu untuk berkonsentrasi.
Ketika anak-anak berpijak pada realitas, imajinasi mereka menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pura-pura. Imajinasi tersebut akan menjadi kemampuan untuk mencipta, menemukan, dan berkontribusi.
Jika Anda seorang orang tua atau pendidik dan ingin membangun lingkungan seperti ini, Sunshine Teachers’ Training dapat memandu Anda langkah demi langkah—lingkungan yang disiapkan, presentasi, observasi, dan strategi praktis yang dapat Anda gunakan segera.