7 Cara Terbaik untuk Mengajarkan Alfabet ala Montessori

Di kelas Montessori, terdapat keyakinan bahwa belajar membaca dan menulis harus menjadi suatu proses yang alami, bertahap, dan nyata. Dengan demikian, alfabet diajarkan secara berbeda dengan kelas tradisional. Bagaimana cara melakukannya? Terdapat tujuh cara terbaik untuk mengajarkan alfabet ala Montessori.

Apa yang membuat Montessori berbeda dengan pendidikan tradisional?

Ruang kelas Montessori memberikan tantangan kepada anak-anak ketika mereka siap, mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri, serta menumbuhkan motivasi dan kesadaran anak terhadap suatu tujuan. Dalam pendidikan Montessori, diyakini bahwa anak-anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Mereka juga memiliki minat serta kemampuan yang berbeda.

Guru Montessori mengikuti minat anak dengan menggunakan pengamatan serta berbagai tingkat pemahaman. Hal ini dapat memungkinkan mereka untuk mengetahui potensi unik pada anak. Mereka mencatat perkembangan, minat, dan kesiapan anak, sehingga mereka dapat mempersiapkan dan menyesuaikan kurikulum untuk pembelajaran pada hari itu.

 

Montessori mulai dari konkret ke abstrak

Maria Montessori berkata, “Apa yang dilakukan tangan, pikiran akan mengingatnya.” Ini adalah hal yang berulang dalam semua teknik pengajaran Montessori, yaitu mulai dari contoh konkret sebelum pindah ke abstrak. Diyakini bahwa semakin banyak siswa belajar dengan menggunakan tangan mereka, maka semakin baik mereka dapat memahami konsep dengan pikiran mereka.

Pengajaran Montessori memanfaatkan indera untuk memfasilitasi pembelajaran. Semakin banyak koneksi saraf yang dibuat selama proses pembelajaran, maka hal itu akan semakin baik. Teknik yang sama juga digunakan dalam mempelajari alfabet.

Mempelajari Alfabet ala Montessori

  1. Montessori fokus pada fonetik

Montessori fokus pada bunyi huruf dan artinya. Alih-alih mengucapkan huruf “A,” mereka mengatakan “aa” atau “aye,” “B” untuk “bee,” untuk “C” mereka mengatakan “cuh,” dll. Montessori mengenalkan huruf dengan bunyinya dan menghubungkan gambaran visual dari huruf tersebut. Hal ini merupakan cara yang lebih baik untuk membantu anak-anak dalam membentuk dan membaca kata-kata (dengan menggabungkan bunyi huruf untuk membuat kata-kata).

Memang, cara ini jauh lebih intuitif dan membantu untuk mengajari anak-anak cara mengeja kata “dog” ketika mereka dapat mengenal bunyi yang dihasilkan oleh setiap huruf dari kata tersebut.

  1. Bunyi huruf yang berbeda

Banyak huruf alfabet yang memiliki bunyi berbeda. C, misalnya, dapat diucapkan sebagai “cu” untuk kata “car, “ss” untuk kata “cell”, “dd” untuk “dog”, dan “de” untuk “dear”. Untuk kata-kata seperti ini, bunyi yang lebih familiar dapat diucapkan.

Vokal dengan suara pendek juga diajarkan terlebih dahulu, sedangkan vokal dengan suara panjang diperkenalkan kemudian. Contohnya adalah “sit” dan “sip.” Dengan melakukan hal ini terlebih dahulu maka akan membantu anak menghindari kebingungan. Selain itu juga dapat memungkinkan mereka untuk membaca dan mempelajari lebih banyak kata.

  1. Mulailah dengan huruf kecil

Kebanyakan orang membayangkan huruf besar terlebih dahulu ketika mereka memikirkan ABC. Dalam metode Montessori, bagaimanapun, mereka mulai dengan huruf kecil.Hal ini karena sebagian besar kata yang mereka temui menggunakan huruf kecil (misalnya dalam buku cerita). Selain itu, anak-anak melihat huruf seperti mereka melihat bentuk. Dengan demikian, belajar alfabet dalam huruf kecil dapat memungkinkan siswa untuk mengenal huruf secara individual tanpa kebingungan.

Setelah anak dapat dengan cepat mengenal huruf yang berbeda dalam huruf kecil, mereka siap untuk menemukan padanan huruf besarnya.

 

  1. Huruf TIDAK disajikan dalam urutan abjad

Meskipun mudah untuk berasumsi bahwa cara mengajarkan huruf alfabet adalah dengan menyanyikannya, sebenarnya tidak ada alasan logis mengapa huruf-huruf dalam alfabet diatur seperti itu. Selain itu, anak harus dapat mengenali huruf tanpa mengacu pada lagu. Inilah sebabnya mengapa alfabet tidak diajarkan dalam urutan abjad pada metode Montessori.

Ketika Anda memikirkannya, satu-satunya kata yang dapat Anda buat dari tiga huruf pertama dari alfabet “A, B, dan C” adalah “cab.” Ini berarti siswa tidak dapat membentuk kata lain menggunakan huruf-huruf tersebut.

Metode Montessori memiliki rangkaian huruf pengantarnya sendiri, berikut adalah caranya:

  • set pertama – c m a t
  • set ke-2 – s r I p
  • set ke-3 – b f o g
  • set ke-4 – h j u l
  • set ke-5 – d w e n
  • set ke-6 – k q v x y z

Dengan cara ini, anak-anak dapat membentuk beberapa kata menggunakan setiap rangkaian huruf. Selain itu, untuk mengenalkan ketertarikan, mereka juga menggunakan huruf pertama nama anak untuk mengajarkan huruf.

 

  1. Menulis mendahului membaca

Rasanya hal ini berlawanan dengan intuisi; namun, gagasannya adalah anak-anak dapat menempatkan huruf (menggunakan bunyinya) dengan lebih mudah dan membentuk kata-kata ketika mereka dapat menghubungkan huruf-huruf tersebut di atas kertas. Dengan mempelajari fonetik, mereka dapat membuat kata-kata sendiri. Dengan menulis kata-kata secara konkret dapat membantu untuk lebih memahami setiap huruf yang membentuk kata.

Menulis adalah proses analitis yang memungkinkan Anda memecah kata menjadi bunyi-bunyinya. Di sisi lain, membaca adalah proses yang lebih maju karena membutuhkan pemecahan kata-kata dan menyatukan bagian-bagian yang berbeda.

Ketika anak-anak menulis, mereka mengekspresikan pikiran dengan menggabungkan bunyi huruf yang berbeda untuk mengekspresikan makna yang mereka maksud. Padahal, membaca menuntut anak untuk menyatukan bunyi-bunyi yang berbeda dan menganalisis maknanya untuk memahami kata.

  1. Montessori memulai dengan material hands-on untuk mengajari siswa cara menulis dan membaca

Bagi anak-anak, menulis kata berarti menggabungkan dua keterampilan yang berbeda: mengelompokkan kata menggunakan bunyi huruf dan menggunakan keterampilan motorik mereka untuk memegang pensil di selembar kertas. Namun, kebanyakan anak mempelajari konsep huruf sebelum mereka dapat mempelajari keterampilan motorik untuk menggerakkan pensil di atas kertas. Jadi, ketika mereka belajar menghubungkan huruf dengan bunyi, mereka dapat berlatih membuat dan membaca kata-kata dengan menggunakan dan memindahkan balok huruf bersama-sama.

Selain itu, anak-anak diajarkan latihan fisik dengan menggunakan tangan mereka sebelum menulis huruf, seperti melukis dengan kuas, cara menggunting dengan aman, mencuci botol, membangun balok menara, memutar kenop pintu, dll. Metode ini membantu mempersiapkan gerakan lengan, tangan, dan jari mereka untuk melakukan tugas yang lebih rumit seperti memegang pensil dan menulis.